anak gayo

Arsip Blog

Daftar Blog Saya

Senin, 12 September 2011

penelitian kadar kalium dan natrium air kelapa

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelapa merupakan salah satu tanaman yang umumnya terdapat di daerah tropis. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap tumbuhan serba guna. Tanaman kelapa terdiri atas batang, akar, daun, bunga dan buah. Buah kelapa terdiri atas kulit luar, kulit dalam, kulit biji, putih lembaga, dan air (Suhadirman, 1998).

Salah satu bagian dari tanaman kelapa yang bermanfaat adalah air kelapa, air kelapa muda banyak dijual sebagai minuman penyegar, selain sebagai minuman penyegar, air kelapa muda juga bermanfaat bagi kesehatan, yaitu dapat digunakan sebagai obat demam, demam berdarah, batu ginjal dan hipertensi (Rindengan, 2004).

Menurut Balai Penelitian dan Pengembangan Industri, Departemen Perindustrian (1986) air kelapa merupakan cairan kaya gizi dan mineral seperti kalium dan natrium dengan kadar masing masing 3120 mg/L untuk kalium dan 1050 mg/L untuk natrium (Rahma, 2010).

Kalium merupakan ion bermuatan positif yang terutama terdapat di dalam sel, sebanyak 95% kalium berada di dalam cairan intraseluler dan Kebutuhan kalium minimum ditaksir sebanyak 2000 mg/hari. Kalium berperan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa dan peranan natrium hampir sama dengan kalium, dan merupakan kation utama dalam cairan ekstraselular dan taksiran kebutuhannya sehari adalah 500 mg/hari (Almatsier, 2009).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat dan artikel, air kelapa yang sering digunakan adalah air kelapa hijau (air kelapa muda hijau) dan terutama digunakan sebagai obat. Harga kelapa hijau lebih mahal dibandingkan dengan kelapa gading/kuning. Dengan adanya berbagai jenis kelapa kemungkinan kandungan kalium dan natrium mempunyai kadar yang berbeda, oleh karena itu peneliti melakukan penelitian penentuan kadar kalium dan natrium pada air kelapa hijau (Cocos nucisvera L. Varietas viridis) dan air kelapa gading/kuning (Cocos nucisvera L. Varietas eburnia) (Anonim, 2011).

Analisis kalium dan natrium dapat dilakukan secara titrimetri, gravimetri dan Spektrofotometri Serapan Atom. Dalam penelitian ini menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom dengan nyala propana - udara karena metode ini dapat menentukan kadar logam tanpa dipengaruhi oleh keberadaan logam yang lain (Khopkar, 1990).

1.2 Perumusan Masalah

1. Apakah ada perbedaan kadar kalium dan natrium pada air kelapa hijau dan air kelapa gading

2. Apakah kadar kalium dan natrium pada air kelapa hijau dan air kelapa gading sesuai dengan literatur (Rahma, 2010)

1.3 Hipotesis

1. Terdapat perbedaan kadar kalium dan natrium pada air kelapa hijau dan air kelapa gading

2. Terdapat perbedaan kadar kalium dan natrium pada air kelapa hijau dan air kelapa gading dengan literatur (Rahma, 2010)

1.4 Tujuan

1. Untuk membandingkan kadar kalium dan natrium yang terdapat pada air

kelapa hijau dan air kelapa gading

2. Untuk mengetahui kesesuain kadar kalium dan natrium yang terdapat

pada kelapa air hijau dan kelapa gading dengan literatur.

1.5 Manfaat

1. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang perbedaan kadar kalium dan natrium pada air kelapa hijau dan air kelapa gading

2. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh peneliti selanjutnya untuk perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang farmasi.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Identifikasi sampel

Berdasarkan hasil identifikasi Jenis kelapa yang diambil sebagai sampel adalah kelapa hijau (Cocos nucisvera L. Varietas viridis) dan kelapa gading (Cocos nucisvera L. Varietas eburnea) sampel yang diambil dari kebun kelapa desa lama kecamatan Pancur batu, Deli Serdang. Kemudian dilakukan identifikasi terhadap sampel tersebut. Kelapa yang digunakan sebagai sampel adalah kelapa yang masih muda, diambil berdasarkan ketebalan daging buah kelapa yaitu 2 mm. Hasil identifikasi dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2 dan gambar sampel dapat dilihat pada lampiran 3.

4.2 Pemeriksaan Kuantitatif

4.2.1 Linearitas Kurva Kalibrasi Kalium Dan Natrium

Kurva kalibrasi logam kalium dan natrium diperoleh dengan cara mengukur absorbansi dari larutan standar kedua logam pada konsentrasi yang berbeda-beda. Logam kalium diukur pada panjang gelombang 769,9 nm dan natrium pada panjang gelombang 589,6 nm. Berdasarkan pengukuran kurva kalibrasi untuk logam kalium dengan rentang konsentrasi 0,5µg/ml sampai 3 µg/ml diperoleh persamaan garis regresi yaitu: Y= 0,2016X . Logam natrium pada rentang konsentrasi 0,3 µg/ml sampai 1,5µg/ml persamaan regresi yang diperoleh adalah y = 0,3851x + 0,0068

Data hasil pengukuran absorbansi larutan standar kalium dan natrium serta contoh perhitungan persamaan garis regresi dapat dilihat pada Lampiran 5 dan 6 dan, kurva kalibrasi larutan standar kalium dan natrium dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 berikut.

Gambar 1. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Kalium

Gambar 2. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Natrium

Berdasarkan gambar kedua kurva kalibrasi di atas diperoleh hubungan antara konsentrasi logam dan serapannya dengan nilai koefisien korelasi (r) 0,9989 untuk kalium dan untuk natrium sebesar 0,9994. Nilai koefisien korelasi yang diperoleh dari logam kalium dan natrium dapat diterima karena sesui persyaratan yaitu: Nilai koefisien korelasi (r) terbaik adalah yang mendekati 1. Hal ini sesuai dengan Hukum Lambert-Beer yaitu A = abc, dimana nilai absorbansi (A) berbanding lurus dengan nilai konsentrasi (c) (Gandjar dan Rohman, 2007).

4.2.2 Kadar Kalium Dan Natrium Dalam air kelapa hijau dan air kelapa

gading.

Penentuan kadar kalium dan natrium dilakukan secara spektrofotometri serapan atom. Konsentrasi kalium dan natrium dalam sampel ditentukan berdasarkan persamaan garis regresi linier kurva kalibrasi larutan standar. Analisis kemudian dilanjutkan dengan perhitungan statistik dengan distribusi t pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05). Berdasarkan hasil perhitungan statistik tersebut diperoleh kesimpulan bahwa rata rata kadar kalium dan natrium pada sampel dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini, dan contoh perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 8 sampai lampiran 12.

No

Sampel

Kadar Kalium

(µg/ml)

Kadar Natrium

(µg/ml)

1

Air kelapa hijau

2058,1 ± 12,5439

67,4854 ± 0,3060

2

Air kelapa

gading

1666,4750 ± 21,2447

16,3126 ± 0,4310

Tabel 2. Kadar kalium dan natrium air kelapa hijau dan air kelapa gading.

Berdasarkan tabel di atas air kelapa hijau (Varietas viridis) lebih banyak megandung kalium dan natrium dibandingkan dengan air kelapa gading/kuning (Varietas eburnia). Ini menunjukkan bahwa kadar kalium dan natrium pada air kelapa sangat berpengaruh terhadap varietas kelapa tersebut.

Menurut Rindengan (2009), komposisi nutrisi dari air kelapa secara lagsung dipengaruhi oleh jenis varietas kelapa dan perbedaan tingkat kemasakan buah, secara tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh dan pemeliharaan seperti keadaan tanah dan iklim.

Dari kedua jenis kelapa tersebut kadar kalium lebih banyak dibandingkan dengan natrium, sehingga air kelapa banyak digunakan sebagai pengobatan

Jumlah kalium yang banyak terdapat dalam air kelapa yang berasal dari kelapa hijau yang muda. Kadar kalium air kelapa tua 312 mg/L, air kelapa muda 3120 mg/L (child, 1964). Unsur mineral dalam air kelapa termasuk kalium dan Natrium berasal dari penyerapan unsur hara tanah oleh akar (Suhardiyono, 1989).

Banyak sedikitnya unsur hara yang diserap dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keadaan iklim dan keadaan tanah (Patimah dan Haerudin, 2007).

4.2.3 Pengujian Beda rata rata

Pengujian beda nilai rata rata bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan pada rata rata kadar logam kalium dan natrium antara air kelapa hijau dan air kelapa gading. Berdasarkan asumsi bahwa sampel berasal dari varians yang sama maka dilakukan uji F dengan taraf kepercayaan 95%, apa bila dari hasil diperoleh Fo ≤ Fkritis Perhitungan dilanjutkan dengan uji t pada taraf kepercayaan 5%. Berdasarkan pengujian beda rata rata logam kalium berada pada daerah penerimaan, yaitu Fhitung < dari pada Ftabel, dengan nilai Ftabel = 15,44, Fhitung = 2,7816 kemudian dilanjutkan dengan uji t taraf kepercayaan 5%, hasil yang didapat berada pada daerah penolakan kritis karena nilai thitung > dari pada ttabel, dengan nilai ttabel = 2,447 dan thitung = 70,7324 sehingga disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar kalium pada air kelapa muda hijau dan air kelapa muda gading/kuning. Contoh perhitungan uji beda rata rata dapat dilihat pada lampiran 13 sampai 14

Sementara Untuk logam natrium pada uji F hipotesis diterima, yang berarti ada kesamaan/homogenitas antara logam natrium pada air kelapa muda hijau dan air kelapa muda gading dengan nilai Ftabel 15,44 dan Fhitung 2,6055 kemudian dilanjutkan dengan uji t pada taraf kepercayaan 5%, hasil yang didapat t hitung lebih besar dari pada ttabel, sehingga hipotesis ditolak, dengan nilai thitung = 279,7855 berarti terdapat perbedaan yang signifikan kadar logam natrium pada air kelapa muda gading/kuning dan air kelapa muda hijau.

4.3 Uji Validasi

4.3.1 Uji Ketepatan dan ketelitian

Setelah dilakukan uji ketepatan (RSD) dan ketelitian (recovery) diperoleh hasil seperti terlihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3. Hasil uji Ketepatan (% uji perolehan kembali) dan Ketelitian (%RSD)

No

Logam

Kadar awal (µg/ml)

Baku yang ditambahkan (µg/ml)

Kadar setelah penambahan baku(µg/ml)

Perolehan Kembali (%)

RSD (%)

1

K

1655,4828

200

1865,2667

104

0,43

2

Na

16,3514

1,8

17,8666

85

0,23

Hasil yang diperoleh dari % uji perolehan kembali menunjukkan bahwa metode pengerjaan memberikan ketepatan yang memenuhi syarat, dimana % perolehan kembali untuk logam kalium dan natrium masing masing sebesar 104% untuk kalium dan 85% untuk logam natrium. Batas batas % uji perolehan kembali adalah 80 – 110% (Harmita, 2004).

Pada koefisien variasi (RSD) juga memberikan ketelitian yang memuaskan. Hasil perhitungan menunjukkan RSD untuk masing masing logam kalium dan natrium adalah sebesar 0,43% untuk kalium dan 0,23% untuk logam natrium. Hasil ini telah memenuhi batas yang telah ditetapkan yaitu kriteria seksama atau teliti yang diberikan jika metode memberikan koefisien variasi 2% atau kurang (Harmita, 2004).

4.3.3 Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Berdasarkan hasil perhitungan standar deviasi (SD) yang dilakukan, maka diperoleh batas deteksi (LOD) untuk logam kalium dan natrium masing masing sebesar 0,1849 µg/ml dan 0,0738 µg/ml, Sedangkan batas kuantitasi (LOQ) dari hasil perhitungan diperoleh sebesar 0,5604 µg/ml dan 0,2237 µg/ml, cara perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 21 samapai 22, sementara hasil pengukuran batas deteksi dan batas kuantitasi untuk sampel air kelapa gading/kuning dengan nilai terendah yaitu 1,6373 µg/ml untuk kalium, dan 0,8113 µg/ml untuk natrium, demikian juga untuk sampel air kelapa hijau hasil pengukuran batas deteksi dan kuantitasi dengan nilai terendah yaitu 2,0487 untuk kalium, sedangkan untuk natrium 0,6699 µg/ml. Menurut Harmita (2004), batas deteksi dan batas kuantitasi umumnya menentukan suatu analisis sampel dimana konsentrasi analit diketahui dan dengan menetapkan konsentrasi analit terkecil yang dapat dideteksi sehingga memenuhi kriteria cermat dan seksama.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil penelitian terdapat perbedaan kadar kalium dan natrium

pada air kelapa hijau dan air kelapa gading, kadar kalium pada air kelapa

muda hijau dengan ketebalan daging buah ± 2mm yaitu 2058,1 ± 12,5439

µg/ml dan natrium 67,4854 ± 0,3060 µg/ml, kadar kalium pada air kelapa

muda gading/kuning kadar 1666,4750 ± 21,2447 µg/ml dan kadar natriumnya

16,3126 ± 0,4310µg/ml .

2. Berdasarkan hasil penelitian kadar kalium dan natrium pada air kelapa muda

hijau dan air kelapa muda kuning/gading tidak sama dengan literatur ,kadar

kalium dan natrium berdasarkan literatur lebih tinggi dari pada kadar kalium

dan natrium air kelapa muda hasil penelitian.

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar memeriksa mineral lain pada

pada air kelapa muda dan air kelapa tua

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Cetakan II. Jakarta: PT.Gramedia

Pustaka Utama. Hal 228, 235-236.

Anderson, R., dan Chapman, N. (1987). Sample Pretreatment and Separation. New York: Behalf of ACOL. page. 94, 107-108.

Anonim (2011), http://www.morphostlab.com/artikel/gizi/air-kelapa-muda

turunkan-tekanan- darah.html tanggal Akses 18 april 2011

Basset, J., Denney, R.j., Jeffery, J.H., dan Mendham, J.S. (1994). Kimia analis Kuantitatif Anorganik. Penerjemah Hadyana, P. Cetakan I. Jakarta: EGC. Hal. 942

Bender, G.T. (1987). Principal of Chemical Instrumentation. Philadhelphia:W.B.

Sounders Company. Page. 98.

Budianto, A.K. (2009). Dasar Dasar Ilmu Gizi. Cetakan ke IV. Malang: UMM

Press. Hal 88

Child, R. (1964). Tropical Agriculture Series. Logman. Group London. Page 77

Darmono. (2001). Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta: Universita Indonesia. Halaman 127.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Departemen Kesehatan RI.

Jakarta.

Ermer, J., dan Miller, JHM. (2005). Method Validation in Pharmaceutical Analysis. Weinheim : WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA. Page. 117 -135

Gandjar, I. G., dan Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Hlm. 27, 463

Handriani, K. (2010).Vitamin Mineral dan Elektrolit. Cetakan I.Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 147

Harmita. (2004).Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Review Artikel. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol 1 (3): 117-135.

Haswell, S.J. (1991). Atomic Absorption Spectrometry. Amsterdam: Elsevier.

page.202.

Kartasapotra,G. (2008). Ilmu Gizi Korelasi gizi, Kesehatan dan Produktivitas Kerja. Cetakan VII.Jakarta: Rineka Cipta. Hal 94 – 95.

Khopkar, S.M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerjemah: Saptorahardjo, A. Jakarta: UI-Press. Hal. 283.

Muirhead, M. (1989). Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Cetakan I. Jakarta: Binarupa Aksara. Hal. 32

Palungkun, R. (1999). Aneka Produk Olahan Kelapa. Cetakan VII. Jakarta: PT.Penebar Swadaya. Hal 1

Patimah, N., dan Haerudin, E. (2007). Nyiur Melambai. Cetakan I. Bandung: PT sinergi Pustaka Indonesia.Hal 21-29

Rahma, A. (2010). Perbedaan kadar kalium pada Air kelapa hijau (cocos viridis)

didataran tinggi dan dataran rendah. Undegraduate Theses from JTPTUNIMUS. Unimus Digital Library Universitas Muhammadiyah Semarang. Hal 1-3

Rindengan, B. (2009). Mutu Kelapa Muda Dari Beberapa Varietas Kelapa.

Manado:Thesis Balai penelitian kelapa dan Palma. Hal 2-7

Rindengan, B. (2004). Potensi Buah Kelapa Muda Untuk Kesehatan dan

Pengolahannya. Manado: Thesis Balai penelitian kelapa dan Palma.

Hal 2-4

Sabri, L., dan Hastono, S.P. (2006). Statistik Kesehatan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Halaman 112-118

Sudjana. (2001). Metode Statistika. Edisi Keenam. Bandung : Tarsito. Hal 167,

206.

Suhadirman, (1998). Bertanam Kelapa Hibrida. Cetakan ke II. Jakarta:

PT.Penebar Swadaya.Hal 15,27

Suhardiyono, L., (1989). Tanaman Kelapa Budidaya dan Pemanfaatannya.

Yogyakarta: Kanisius.Hal 160-161

Svehla, G. I. (1979). Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Bagian I. Penerjemah: Setiono, L., dkk. Jakarta: Kalman Media Pustaka. Hal. 262, 263, 301, 307.

Warisno. (2003). Budidaya Kelapa Genjah. Yogyakarta: Kanisius IKAPI. Hal 15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it